Feeds:
Posts
Comments

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
Hmmm….
Setelah membaca cerpen ini saya merasa isi cerpen ini sangat berlebihan. Mengapa berlebihan? Tokoh utama cerpen ini ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk pacar tercintanya, yaitu senja. Terasa amat berlebihan karena hanya untuk menyenangkan kekasih hati, tokoh utama tersebut mencuri senja yang dimiliki oleh semua orang hingga ia harus dikejar-kejar polisi dan bersembunyi di dalam gorong-gorong. Sensasi berlebihan juga amat terasa di bagian kejar-kejaran polisi dan tokoh utama yang diimajinasikan dengan adegan di film-film Hollywood. Penulis sangat imajinatif, namun imajinasi yang ia gunakan di cerpennya kali ini kurang “sreg” buat saya. Namun, ini adalah sebuah cerpen. Semua orang bisa bebas menulis apa saja dan orang lain yang membacapun ada pula yang suka dan tidak suka.

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/
Kurang menarik…..itulah yang saya pikirkan setelah membaca cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karangan Seno Gumira Ajidarma…
Saya kurang tertarik karena saya kurang paham mengenai cerita dalam cerpen tersebut. Bahasa yang digunakan oleh penulis kurang dapat dimengerti dan banyak kalimat kiasan dalam cerpen tersebut. Jadi, pembaca tidak dapat dengan mudah memahami cerpen karang Seno Gumira Ajidarma.

Resensi Film Hachiko

Sutradara : Lasse Hallström
Pemain : Richard Gere,Joan Allen,Sarah Roemer, Erick Avari
Jason Alexander,Davenia McFadden,Kevin De Coste,Tora Hallstrom,Rubbie Sublet,Chico,Layla,Forrest.
Tanggal rilis : 8 agustus 2009
Durasi : 104 min.

Sebuah film drama yang sangat mengharukan ini menceritakan kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Kisah anjing dan majikannya ini berawal ketika seorang Profesor sebuah perguruan tinggi (Richard Gere) yang memungut seekor anak anjing di stasiun karena anak anjing ini ditinggalkan. Sejak itu mereka membentuk semacam hubungan pertemanan dan ikatan yang tak terpisahkan. Setiap hari anjing selalu mengikuti majikannya ke stasiun dan selalu menunggu di depan stasiun untuk menyambut majikannya pulang bekerja. Hal serupa terus terjadi hingga Profesor meninggal dunia di tempatnya bekerja, anjing terus menunggu majikannya yang tak mungkin kembali.

Hachiko merupakan film yang ceritanya diangkat dari kisah nyata yang melegenda di Jepang. Film ini lebih dulu dibuat versi Jepangnya. Hachiko versi Jepang merupakan anjing yang lahir di propinsi Odate Jepang sekitar tahun 1923 dan dipelihara oleh seorang Profesor di Universitas Tokyo bernama Hidesaburo Ueno. Sebelum menonton film ini saya telah lebih dulu mengetahui kisah Hachiko jadi saya yakin tidak akan menitikkan air mata sedikit pun menontonnya karena saya telah mempersiapkan diri sebelumnya. Namun, berkat akting semua pemain yang sangat bagus bahkan akting anjingnya yang juga luar biasa membuat saya menitikkan air mata. Ditambah pula dengan musiknya yang turut membawa suasana haru. Film ini layak tonton bagi seluruh keluarga dan khususnya bagi para pencinta anjing, namun bagi Anda yang kurang menyukai anjingpun saya yakin Anda akan tetap menangis bila Anda memiliki sedikit perasaan. Film ini juga mendidik bagi anak-anak untuk belajar menanamkan nilai-nilai kesetiaan.

resensi Hachiko

Hachiko, film yang mengadopsi dari kisah anjing dan majikannya yang bersal dari Jepang ini banyak menguras air mata. Bermula dari pertemuan antara Parker yang diperankan oleh Richard Gere dan hachiko dengan tidak sengaja di sebuah stasiunlah yang membawa kisah ini menjadi kisah yang menyedihkan. Parker yang bermaksud mencari siapa pemilik dari hachiko tak kunjung menemukannya sehingga akhirnya Parker-lah yang memelihara hachiko. Semakin hari Parker dan Hachiko semakin akrab. Setiap hari Hachiko mengantar dan menjemput Parker di stasiun. Hingga suatu ketika Parkertak kunjung pulang, ia meninggal sebelum pulang. Dan pada saat yang sama Hachiko masih tetap menunggu kepulangan majikannya di depan pintu stasiun. Walaupun majikannya telah meninggal, setiap hari Hachiko selalu datang ke stasiun untuk menunggu kepulangan majikannya.

Film karya sutradara Lasse Hallstrom ini memang sangat menyedihkan. Akting dari Richard Gere juga tidak dapat diragukan lagi, begitu juga akting dari anjing pemeran Hachiko, penyampaian emosi dapat terlihat dengan jelas dari raut muka anjing tersebut. Saat sedih, entah mengapa raut muka dari anjing tersebut juga terlihat sedih.

Namun, film berdurasi 104 menit ini juga cukup membosankan. Sebenarnya adegan yang dipertontonkan hanya itu-itu saja. Banyak adegan yang mirip di dalam film ini. Seperti saat Hachiko mengantar dan menjemput Parker di stasiun, adegan yang mirip beberapa kali terjadi. Sehingga terlihat membosankan pada pertengahan film. Namun, pada akhir film kita akan dibawa pada perasaan sedih.

Selasa, 09 Maret 2010

Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief (2010)

Nilai: C+

Sutradara: Chris Columbus

Chris Columbus kali ini gagal untuk memulai seri adaptasi novel seperti yang ia lakukan pada Harry Potter. Saya pribadi belum pernah membaca novel Percy Jackson. Tetapi Saya memang tidak suka dengan plot film ini walaupun temanya memang menarik dan Saya merasakan bahwa ini adalah sebuah feel-good film. Nampaknya dewa laut Poseidon (Kevin McKidd) kembali melakukan poligami dengan manusia bernama Sally Jackson (Catherine Keener) sehingga menghasilkan manusia setengah dewa baru bernama Percy Jackson (Logan Lerman)-berbeda dengan Perseus walaupun akan ada banyak kemiripan diantara mereka. Ceritanya gampangan seperti ini : Percy dituduh telah mencuri petir milik Zeus (Sean Bean) dan diancam untuk mengembalikannya dalam 10 hari, di sisi lain, Hades (Steve Coogan) menginginkan petir itu dari Percy dengan cara menyandera sang ibu. Ditemani oleh anak Athena, Annabeth (Alexandra Daddario) dan manusia kambing, Grover (Brandon T. Jackson), Percy harus berhadapan dengan monster-monster yunani untuk melewati jalan tol menuju neraka. Ada banyak hal lucu di sini, mulai dari Medusa (Uma Thurman)-itu adalah bagian paling menarik dalam film ini, sequence di vegas yang diiringi lagu Lady Gaga, Hades yang diperankan Steve Coogan berpenampilan gaul dan (tanpa bermaksud rasis) dewa-dewa yunani tiba-tiba banyak yang menjadi negro. Filmnya memang fun dan enjoyable, cocok dicoba untuk mengisi waktu luang, tetapi filmnya tetap kurang berkenan karena dangkalnya cerita. Bahkan anak kecil pun tetap ingin tahu alasan yang logis mengapa Zeus awalnya menuduh Percy. Maaf untuk terlalu menganggap serius film ini. Saya pribadi merasa kalau cerita filmnya sudah mulai diputar-putar di area yang tidak masuk akal. (9 maret 2010)

Diposkan oleh Erdiawan Putra di 08:53

http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com/2010/03/percy-jackson-and-olympians-lightning.html diakses pada hari Sabtu pukul 20.00.

Film yang pada awalnya direncanakan untuk menjadi rival film Harry Potter ini mendapatkan banyak nilai kecil dari para perensensi film. Salah satunya dapat dilihat dari resensi yang ditulis oleh Erdiawan Putra di atas. Dari kalimat pembuka yang digunakan Erdiawan sudah dapat ditebak sebenarnya kemana ia akan menilai film tersebut. Pendapatnya telah banyak tertuang sebelum ia menceritakan gambaran mengenai cerita film ini.

Dari resensi yang singkat ini pembaca dapat menangkap maksud peresensi dan juga mendapatkan sedikit bayangan mengenai film yang diresensi. Sebelum saya membaca resensi ini sudah lebih dulu menonton filmnya. Tidak ada rasa ’menggigit’ seusai menonton film ini, kurangnya rasa ’menggigit’ itu ternyata juga dirasakan oleh Erdiawan Putra yang kemudian ia tumpahkan ke dalam sebuah resensi. Namun sayang kesimpulan yang diberikan oleh peresensi masih terlalu menggantung sehingga pembaca harus memutuskan sendiri film ini layak ditonton atau tidak.


Alice In Wonderland

Ketika trailer film Alice In Wonderland (AIW) beredar, terus terang saya tidak sabar dan penasaran bagaimanakah film ini jadinya apabila dieksekusi oleh sutradara Tim Burton? Tim Burton terkenal dengan film-filmnya yang bernuansa gotik, humor gelap, dan akting teatrikal para aktornya. Entah sudah berapa kali Sutradara film Charlie And The Chocolate Factory dan

Sweeney Todd ini bekerja sama dengan Johnny Depp, aktor kesayangannya, lengkap dengan trio antagonis Helena Bonham-Carter-Alan Rickman-Timothy Spall (ketiganya juga pemeran dalam film waralaba laris Harry Potter). Pertimbangan apa pula yang membuat Walt Disney Pictures kali ini memercayakan eksekusi cerita anak-anak yang sudah sedemikian terkenal ke tangan sutradara nyentrik ini?

Alice In Wonderland, cerita yang penulis sendiri sudah mengenalnya sejak kanak-kanak, bercerita tentang gadis cilik yang masuk ke dalam dunia khayal di mana semua yang tidak mungkin menjadi nyata. Seperti kelinci berjubah yang selalu terburu-buru, ulat biru bijaksana, si kembar yang selalu berkelahi, pembuat topi setengah gila, dan jangan lupa! si kucing belang yang bisa tersenyum. Tapi kali ini setting dirubah menjadi saat Alice beranjak dewasa.

Alice (Mia Wasikowska), menganggap kejadian yang dialaminya saat kanak-kanak, yaitu menjelajahi dunia ajaib, hanyalah sebuah mimpi belaka. Ketika hari pertunangannya dengan seorang lelaki kaya ditentukan, Alice yang menolak untuk dinikahi memilih mengikuti kelinci berjubah ke lubangnya. Sekali lagi Alice masuk ke dunia penuh kejutan. Ada yang berbeda di Negeri Ajaib. Suasananya tak lagi seindah dulu. Hal ini dikarenakan oleh berkuasanya sang Ratu Merah (Helena Bonham Carter) yang berkepala besar (secara harfiah), kejam, serta berperilaku sewenang-wenang. Rakyat Negeri Ajaib lebih suka apabila mereka diperintah oleh Ratu Putih (Anne Hathaway) adik dari Ratu Merah. Namun apa boleh buat, tahta dan mahkota Ratu Putih telah direbut sang tiran. Dibantu oleh Mad Hatter-si pembuat topi agak gila (Johnny Depp), dan kawan-kawan, termasuk si kucing tersenyum Chesire Cat, mereka bertekad mewujudkan ramalan yang mengatakan bahwa Alice akan menumbangkan kekuasaan Ratu Merah dengan cara memusnahkan monster kesayangan sang ratu, Jabberwocky. Akankah Alice bersedia menolong mereka?

Tak begitu salah memang, apabila Tim Burton menyajikan gambar-gambar kelam negeri ajaib, mengingat negeri ini diceritakan telah berubah suram sejak berkuasanya sang Ratu Merah. Depp, seperti biasa, dengan arahan Burton, leluasa berekspresi dengan berbagai macam karakter aneh. Entah karena Tim Burton terlalu asyik mengulik visual efeknya, dari segi drama akting para pemainnya bisa dikatakan tidaklah terlampau maksimal.Tokoh Mad Hatter tingkah polahnya agak mirip dengan akting Depp sebagai Willy Wonka di film Charlie and The Chocolate Factory. Helena Bonham Carter, seperti biasa, aktingnya sebagai antagonis lumayan teatrikal dan mencuri perhatian. Jangan lupakan pula, si Ratu putih. Anne Hathaway yang dengan wajah ‘ningrat-klasik’ nya sering kebagian peran sebagai putri (Dwilogi Princess Diary dan Ella Enchanted) kali ini memerankan Ratu Putih yang gerakan dan tingkahnya sangat lebay. Masih terselip humor di sana-sini yang membuat penonton tertawa, apalagi penggarapan film ini dibantu oleh teknik CGI (Computer Graphic Image) yang mendukung format 3D nya, sehingga “keajaiban” negeri ini benar-benar terasa oleh mahluk-mahluknya yang juga tak kalah ganjil termasuk penampakan Chesire Cat yang menggemaskan. Satu hal lagi, film ini agak kelam apabila ditonton oleh anak-anak walau dasar ceritanya adalah dongeng keluarga.-windo-

http://ruangnonton.com/2010/03/alice-in-wonderland-dunia-ajaib-bernuansa-kelam/

Kelebihan dari resensi mengenai film alice in wonderland yang ditulis oleh Kaitomo adalah dalam resensi tersebut sudah teresensi dengan jelas mengenai bagian positif dan bagian negatif dari film tersebut. Dan penulis juga menjelaskan alasan mengapa bagian tertentu disebut bagus atau kurang bagus. Penulis juga memberikan gambaran dengan jelas mengenai jalan cerita dari film Alice In Wonderland, sehingga bagi orang yang belum pernah menontonnya akan dapat membayangkan cerita dari film tersebut.

Namun, kekurangan dari resensi tersebut terletak pada tulisan mengenai kekurangan film Alice In Wonderland. Di resensi tersebut ditulis bahwa dari segi drama akting para pemainnya bisa dikatakan tidaklah terlampau maksimal tapi dalam resensi itu juga penulis memuji tentang akting para pemain dalam Alice In Wonderland. Dan walaupun penulis menyinggung mengenai akting dari peran Ratu Putih dan Ratu Merah tapi penulis sama sekali tidak menyinggung mengenai akting dari Alice sebagai pemeran utama.

Pernahkah Anda mendengar nama Untung Suropati? Mungkin Anda semua pernah mendengar tapi apakah Anda semua tahu bahwa sebenarnya dia adalah orang Bali? Jika mendengar namanya saja kita tidak akan pernah tahu bahwa dia adalah orang Bali, mungkin Anda semua akan mengira bahwa dia adalah orang Jawa. Bagi pecinta cerita sejarah Indonesia pasti tahu persis siapakah Untung Suropati itu. Namun bagi orang yang kurang tertarik akan cerita sejarah mungkin akan lebih familiar dengan nama Jumong, tokoh legendaris dari Korea yang mendirikan dinasti Goguryeo.

Hari Jumat kemarin saya menyempatkan diri saya untuk pergi mengunjungi teman SMP saya yang kebetulan juga kuliah di Jogja, tepatnya di Jurusan Sejarah FIB UGM, untuk mengambil barang yang tertinggal. Saat saya tiba di kosnya ternyata dia lagi asyik nonton bareng teman-teman kosnya. Ternyata mereka sedang asyik menonton drama serial Korea yang berjudul Jumong, Prince of Legend. Drama ini berlatar belakangkan sejarah Korea paling mengesankan dan mengutip dari pangeran229.wordpress.com drama ini menduduki rating tertinggi selama tahun 2006 di Korea, yang belum lama ini mulai di ditayangkan di salah satu televisi kita.

Saya bergurau pada teman saya, “Mentang-mentang anak sejarah, nontonnya juga sejarah.”  Dia menjawab, “Ya perlu ini Des, buat perbandingan sejarah kita (Indonesia) sama negara lain tapi sayangnya di Indonesia kagak ada film kayak gini, yang ada malah sinetron ga jelas.” Saya sangat kaget mendengar perkataan teman saya itu, tumben-tumbennya dia peduli dengan masalah seperti itu pasalnya dari dulu dia selalu cuek dengan kondisi sekitarnya. Lalu dia malah bertanya pada saya, “Des, lo tau gak Untung Suropati itu pahlawan darimana?” Sontak saya bingung menjawabnya. Sebelum saya sempat menjawab, dia berkata lagi “Ah lo taunya cuma Jumong dan Deokman doang kan? Secara lo anak bahasa Korea.” Tertampar sekali saya mendengar itu, lalu sepulangnya dari kos teman, saya langsung menyempatkan diri ke warnet untuk mencari lebih tahu mengenai  Untung Suropati.

Setelah mendapat informasi tentang Untung Suropati saya berfikir, kenapa orang Indonesia malah susah dan bth merogo kocek untuk mencari tahu tentang pahlawannya sendiri sedangkan dengan mudahnya seluruh lapisan masyarakat di Indonesia tahu legenda Pangeran Jumong tanpa bersusah payah membuka jaringan Internet yang pasti perlu membayar jasa Internet tersebut, atau membeli buku sejarah atau membayar guru sejarah untuk mengajari kita. Hanya dengan menyalakan televisi pada jam dan stasiun televisi yang telah ditentukan dan menontonnya tanpa membayar sepeser uangpun kita telah belajar sejarah.

Masyarakat terpaksa lari menyaksikan film produksi dari negara lain karena bicara jujur, karya mereka memiliki nilai sejarah bagus ketimbang film bertema kolosal sejarah Indonesia masa lampau yang belum tentu diketahui kebenarannya seperti (maaf-maaf saja ya, “Wiro Sableng” atau “Misteri Gunung Merapi”). Kapan saya bisa menyaksikan misalnya, “Legenda Untung Suropati”? Kita perlu tahu lebih film atau drama yang menceritakan tentang Legenda Untung Suropati lebih pada fakta dan detilnya. Inilah fungsinya drama atau film itu, menampilkan sejarah dengan menarik dan mendekati fakta sehingga mudah dipahami dan dihafal dan yang pasti tanpa membayar sepeser uang.

Apa salahnya sih bila kita mengikuti jejak Korea dalam menyebarluaskan sejarah negerinya ke rakyatnya sendiri, bahkan telah sukses menyedot perhatian masyarakat dunia. Saya harap kelak akan ada film atau drama sejarah kerajaan dari Indonesia yang begitu apik untuk ditonton serta dimengerti sebagai pupuk pendidikan bagi bangsa ini, jangan melulu bangsa ini dijejelkan dengan intrik percintaan ataupun misteri belaka.

Akhir kata, mengutip seperti apa yang pernah Bung Karno bilang bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, ini berarti adalah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakannya, bukan begitu?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.